Tawheed Center Universitas Djuanda (UNIDA) kembali menyelenggarakan kegiatan rutin Majelis Tasbih pada Jumat, 17 Juli 2026. Pada kesempatan ini, Wakil Rektor III UNIDA sekaligus dosen Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) UNIDA, Prof. Dr. Rasmitadila, M.Pd., menyampaikan materi bertajuk "Membangun Sikap Partisipatif dan Ketangguhan (Adversity) sebagai Kunci Keberhasilan Hibah."
Dalam pemaparannya, Prof. Rasmitadila menjelaskan bahwa sikap partisipatif merupakan salah satu faktor penting dalam membangun budaya hibah yang baik. Sesuai dengan firman Allah Swt. dalam QS. Al-Ma'idah ayat 2 "Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa" Menurut beliau, tim yang saling menguatkan akan melahirkan kolaborasi, inovasi, dan keberkahan. Oleh karena itu, keberhasilan lahir dari sinergi dalam kebaikan.
Beliau juga menguraikan beberapa penyebab seseorang belum memiliki sikap partisipatif, di antaranya takut gagal sebelum mencoba, merasa tidak mampu, berada di zona nyaman (comfort zone), tidak mau keluar dari ego, tidak percaya pada tim, berorientasi hanya pada insentif, tidak siap menghadapi penolakan, kurang memiliki growth mindset, tidak mau belajar hal baru, serta lemahnya kesadaran bahwa hibah merupakan amal jariyah. Beliau mengingatkan bahwa kontribusi kecil yang dilakukan dengan ikhlas tetap bernilai besar di sisi Allah Swt.
Ketangguhan (Adversity) dimaknai sebagai kemampuan untuk bertahan, bangkit, dan belajar dari kegagalan. Beliau menegaskan bahwa gagal memperoleh hibah bukan berarti gagal sebagai peneliti.
Dalam proses pengajuan hibah, proposal yang ditolak menjadi bahan evaluasi, kritik dari reviewer menjadi peluang belajar, revisi menjadi sarana meningkatkan kualitas, dan konsistensi akan memperbesar peluang keberhasilan. Karena itu, ketangguhan bukan berarti menghindari kegagalan, melainkan terus melangkah hingga keberhasilan datang. Adversity dibangun melalui kesabaran, ikhtiar, evaluasi, dan perbaikan yang berkelanjutan.
Untuk membangun budaya partisipatif dimulai dengan berani menyampaikan ide, saling memberikan umpan balik, serta merayakan keberhasilan tim, bukan hanya keberhasilan individu. Dengan demikian, setiap sivitas akademika diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton perubahan.
Sebagai penutup, Prof. Dr. Rasmitadila, M.Pd., menyampaikan firman Allah Swt. sebagai refleksi dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11 "Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
Budaya hibah yang kuat tidak dibangun oleh orang-orang yang paling pintar, tetapi oleh mereka yang mau berpartisipasi, terus belajar, saling menguatkan, dan tidak menyerah ketika menghadapi kegagalan.